Jinten
Eefke, si gadis Belanda yg tinggal 2 pintu dari kamar saya, malam itu meletakkan sebungkus kecil sesuatu di wadah bumbu di dapur komunal lantai 2. 'It's Komijn, I don't know what it is in English but if you need it some just feel free to use it", ujarnya sambil menebarkan senyuman. Setelah menghilang ke kamarnya, barulah saya dekati tu bungkusan, penasaran isinya apaan. Ternyata, jinten!Baru minggu lalu saya niat banget pengen punya jinten untuk bikin tongseng ala emak di rumah yg serba memasukkan bumbu rempah-rempah. Waktu liat di Albert Heijn, sebungkus kecil aja harganya udah hampir 3 euro, berkisar 30,000 rupiah, huah mahal banget. Saat itu, seketika langsung mikir, bukankah karena rempah-rempah Indonesia dijajah Belanda? kenapa saya harus beli dengan mahal disini? dan, jinten yg ada di toko ini kemungkinan besar jg dari Indonesia toh?
Oke, eefke baik sekali menawarkan jintennya. Tapi ada rasa enggan untuk mengambil bahkan sejumput saja meskipun gratis. Gini-gini saya juga masih punya nasionalisme, meski klise.



0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home